Cuaca dingin di musim kemarau yang harusnya panas banyak dikaitkan dengan fenomena aphelion. Dugaan tersebut jadi perbincangan hangat hingga sempat viral di media sosial.
Beredarnya kabar tersebut cukup meresahkan buat masyarakat awam. Apalagi ada yang menghubungkannya dengan gejala batuk dan pilek. Yuk, simak penjelasan tentang fenomena astronomis ini.

Apa itu Fenomena Aphelion?
Menilik dari terminologinya, aphelion tersusun dari dua kata yang berasal dari Bahasa Yunani. “Apo” berarti jauh dan “Helion” yang berarti matahari.
Aphelion merupakan momen saat bumi berada pada titik terjauhnya dari matahari. Fenomena aphelion terjadi secara tahunan dalam orbit bumi yang bentuknya elips atau lonjong.
Lintasan elips menyebabkan jarak bumi dengan matahari terus berubah sepanjang tahun. Dengan jarak terdekat (perihelion) sekitar 147,1 juta kilometer. Sementara jarak terjauh (aphelion) sekitar 152,1 juta kilometer.
Lantas, kapan fenomena aphelion terjadi? Jawabannya yakni sekitar bulan Juli.
Karena bumi berada di titik terjauh dari matahari, banyak yang menganggap aphelion menyebabkan penurunan suhu udara. Padahal sekitar bulan Juli, Indonesia memasuki musim kemarau yang identik dengan panas terik.
Dampak Fenomena Aphelion
Dampak fenomena aphelion terasa pada belahan bumi utara dan selatan. Saat mencapai titik aphelion, bumi mengalami kemiringan poros rotasi sebesar 23 derajat dari bidang orbit.
Kemiringan sumbu bumi menyebabkan salah satu belahan bumi terpapar lebih banyak sinar matahari dan lebih panas.
Alhasil, terjadi perbedaan musim antara bumi belahan utara dan selatan. Belahan utara akan mengalami musim panas, sementara belahan selatan mengalami musim dingin.
Selain perbedaan musim, aphelion menyebabkan durasi siang hari lebih panjang di belahan bumi utara. Hal ini karena posisi orbit bumi menjadi lebih lambat saat jauh dari matahari, sesuai dengan hukum Kepler tentang gerak planet.
Aphelion juga mengakibatkan penurunan intensitas cahaya matahari yang sampai ke bumi. Namun, dampak ini tidak terasa oleh manusia soalnya penurunan yang terjadi sangat sedikit, sekitar 6-7%.
Kaitan Fenomena Aphelion dan Cuaca Dingin
Berita fenomena aphelion yang sempat viral bikin banyak orang bertanya-tanya soal dampaknya di Indonesia.
Mengutip dari laman BMKG, kondisi cuaca dingin di Indonesia selama bulan Juli tidak berkaitan dengan aphelion. Kendati berada di posisi terjauh dari matahari, aphelion tidak berpengaruh banyak terhadap cuaca permukaan.
Kondisi penurunan suhu udara saat musim kemarau sebenarnya merupakan fenomena alami. Cuaca dingin terutama terjadi pada bulan-bulan puncak kemarau yakni Juli sampai September.
Selama periode tersebut, terjadi pergerakan angin dari arah timur tenggara yang terkenal dengan sebutan Australian Winter Monsoon. Ya, seperti namanya angin berasal dari Benua Australia sampai ke Indonesia.
Australia mengalami musim dingin pada bulan Juli, sehingga massa udara pada wilayah tersebut suhunya lebih rendah dan kering. Pola tekanan udara di Australia juga relatif tinggi. Kondisi ini kemudian menyebabkan pergerakan massa udara dari Australia ke wilayah Indonesia.
Aliran udara tersebut menimbulkan penurunan suhu pada malam hari, terutama pada wilayah di selatan khatulistiwa.
Selain itu, berkurangnya awan dan hujan selama kemarau juga ikut berpengaruh pada penurunan suhu. Soalnya, kondisi langit tanpa awan mengakibatkan energi radiasi bumi langsung terlepas ke luar angkasa. Sehingga udara permukaan bumi cenderung mengalami penurunan suhu.
Itulah penjelasan mengenai fenomena aphelion. Sekali lagi, fenomena ini merupakan hal yang normal terjadi dan dampaknya sangat minim di Indonesia.
